Pages

Sabtu, 07 November 2015

Renungan

lnilah di antara tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:

Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih.
Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu.
Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaan nya demi ikut menguburkanmu.
Barang barangmu akan dikemas; kunci kuncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu.
Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermanfaat untukmu. Atau dibuang agar engkau segera hilang dari kenangan..

Yakinlah, dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu.
Ekonomi akan tetap berlangsung!
Aktivitas tetap berjalan, anak2 dengan cepat kembali tertawa, engkau telah tenggelam dalam episode kenangan..
Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain.
Hartamu menjadi harta halal bagi ahli waris. Kendaraanmu berpindah tangan, rumahmu diisi orang baru..
Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan dari hartamu.

Kesedihan atasmu ada 3 :
Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan ya..
Kawan2mu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa.
Di rumah ada kesedihan yg mendalam.
Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun.
Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan.

Demikianlah "Kisahmu telah berakhir di tengah2 manusia".
Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, Akhirat.

Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak.
Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta.
Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.

Pertanyaannya adalah:
Apa persiapanmu untuk kuburmu dan Akhiratmu?
Hakikat ini memerlukan perenungan.
Usahakan dgn sungguh2.
Menjalankan kewajiban kewajiban, hal-hal yg disunnahkan, sedekah rahasia, merahasiakan amal shalih, shalat malam,

Semoga saja engkau selamat.
Andai engkau mengingatkan manusia dengan tulisan ini insyaAllah pengaruhnya akan engkau temui dalam timbangan kebaikanmu pada hari Kiamat.

Sampaikanlah renungan ini pada orang2 yg engkau kasihi.

Penat dan letih

Naik tangga bertingkat-tingkat
Sampai diatas kunci rumah tertinggal
Beramal berpuluh tahun
Sampai diakhirat ikhlas tertinggal
.
Postingan beribu-ribu
Karena riya’ .. hanya menghabiskan waktu
Status beratus-ratus
Karena riya’ .. amalan menjadi hangus
.
Dear …
Sebelum menekan tombol “ENTER” untuk hanya sekedar, ngetwitt, update status ataupun memposting

gambar apalagi yang bersifat dakwah
Tanyakan dulu pada hatimu …
.
Untuk apakah itu …?
Untuk siapakah itu …?
Untuk Allah kah .. ?
.
Jika dihatimu masih ada rasa kecewa bila tidak ada yang memberi like pada postinganmu …
Dan ada rasa bangga didalam hati ketika banyak like yang engkau dapat …
Niatmu belum Ikhlas saudaraku …
.
Jika dihatimu masih ada rasa gundah ketika followermu tidak bertambah dan bahagia jika bertambah
Niatmu belum lurus saudaraku
.
Jika niatmu lurus hanya untuk Allah …
Maka engkau tidak akan menghiraukan jumlah like, dan tidak ada sedikitpun rasa berbangga karena

pujian/banyaknya like
.
Jika niatmu ikhlas karena Allah
Maka engkau tidak akan peduli berapa jumlah Follower mu, tidak gundah bila berkurang dan tidak

bangga ketika bertambah
.
Teladani lah salah satu teladan Ummah Ummar bin Abdulaziz,
.
Ibn saad menyebutkan dalam kitab Thabaqat Kubra bahwa Umar ibn Abdul Aziz jika berkhutbah diatas

mimbar, lalu khawatir membanggakan dirinya, maka ia langsung menghentikannya,
Jika dia menulis suatu kitab, lalu takut akan merasa membanggakan dirinya, maka ia menyobekkannya

sambil berkata: “Sungguh aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku sendiri”
.
Maka dari itu mari kita Luruskan kembali niat, hanya Allah, hanya karena Allah
.
Jangan sampai beramal hanya mendapat Lelah dan letih saja karena ada penyakit dalam niatkita...
.
Wallahu ‘alam ..

Renungan untukmu

Renungan Ujian Untuk Aku

Bila Allah turunkan ujian,
Selalu aku bertanya,
Kenapa aku yang terpilih?
Kenapa aku mesti diuji?
Apa salah aku sehingga aku harus menerima ujian ini?

Mereka, mereka juga seperti aku,
Malah mereka lebih lalai daripadaku,
Tetapi kenapa kesenangan hidup tetap Allah berikan?

Kenapa limpahan nikmat Allah curahkan?
Saat itu kakiku mula layu,
Bagai langkahan ku tiada arah tuju,
Akhirnya disitu aku melutut,
Berserah diri hanya pada Yang Satu.

Ya Allah, aku hambaMu yang tamak,
Tamakkan nikmat dunia,
Sedangkan Kau telah memberi aku nikmat yang terlalu banyak,
Yang tak tertanding nilainya dengan setitis ujian Kau berikan.

Ya Allah, aku lupa bahawa Engkau Maha Berkuasa,
Aku lupa nikmat dunia hanya sementara,
Aku lupa semua ini pinjaman semata,
Yang jika aku kejar, maka jauhlah aku dari syurga.

Ya Allah, ujianMu tarbiyah buat diriku,
Untuk aku mengenang dosa yang lalu,
Supaya bertambah keimananku,
Untuk tetap berada dijalanMu.

Mungkin ku pandang ujian itu terlalu besar,
Sedangkan itu tanda kasihMu kepada hambaMu,

Aku tahu Engkau rindukan suaraku memohon doa,
Engkau rindu ungkapan dari hatiku,
Maka turunlah ujian sebagai hadiah buatku.

Ya Allah, tiada apa yang lebih aku harapkan,
Hanya kekuatan dan ketabahan untuk aku terus mentaatiMu,
Untuk aku melawan kesedihanku,
Untuk aku tetap percaya, takdirMu adalah yang terbaik buatku.

Teruslah menyayangiku Ya Allah,
Jangan pernah lupakan aku hambaMu yang hina ini,
Aku tidak mahu berjauhan dariMu,
Kerana aku yakin sesungguhnya ujian itu sebenar-benar rahmat dariMu.
.
Firman Allah s.w.t. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami

telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang

yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya

Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al-Ankabut : 2-3].
.
Dari @sabarlahdiriku
.
Silahkan di " LIKE & SHARE " Jika dirasa pengingat untuk kita, Moga-moga bermanfaat ...